Mengenal Hujan Dan Proses Terjadinya Hujan

Anda tentu sudah tidak asing dengan hujan. Hujan adalah air yang jatuh dari langit dengan serangkaian proses. Proses terjadinya hujan ini membutuhkan beberapa elemen sehingga tidak bisa terjadi begitu saja. Untuk pengertiannya hujan bisa disebut proses presipitasi dimana sejumlah zat cair dari atmosfer bumi turun ke permukaan bumi. Butiran-butiran air yang turun ke bumi ini terbantuk dari suatu proses perubahan uap air.

Idealnya, hujan akan turun dalam kurun waktu yang disesuaikan dengan letak geografis suatu daerah. Contohnya di Indonesia, idealnya hujan terjadi mulai bulan Oktober hingga Maret. Perhitungan waktu ideal terjadinya hujan dihitung melihat beberapa faktor seperti suhu udara, posisi matahari dan juga angin. Namun karen kondisi alam yang tidak sehat, saat ini hujan kerap datang di waktu yang tidak ideal.

Lalu bagaimana proses terjadinya hujan? Berikut ulasannya

Proses terjadinya hujan

Matahari yang dikenal sebagai pusat alam semesta ini sangat mempengaruhi proses terjadinya hujan. Dengan bantuan dari panas matahari, air dari berbagai sumber air (laut, sungai, danau) yang ada di bumi akan menguap ke udara.

Karena suhu udara yang sangat tinggi, uap air ini kemudian memadat. Proses ini disebut proses kondensasi. Uap air akan beruhah menjadi embun di langit. Embun dilangit ini akan semakin memadat karena pengaruh suhu yang terus meningkat. Akhirnya terbentuklah awan.

Berdasarkan kajian dari Neilburger di tahun 1995, pada tahap ini, embun atau titik-titik air dilangit ini memiliki ukuran jari-jari 5-20 mm. Berdasarkan perhitungannya, dengan ukuran yang sedemikian, titik-titik air ini bisa jatuh dengan kecepatan 0,01-5 cm/detik. Namun titik-titik air ini tidak bisa jatuh dan memadat menjadi awan karena kecepatan aliran udara yang menuju ke atas jauh lebih tinggi. Angin juga terlibat dalam proses pembentukan hujan. Tiupan angin di udara akan membawa awan bergerak. Pergerakan angin yang membawa awan ini akan membuat perubahan bentuk awan. Awan-awan kecil kemudian akan menyatu dan membentuk awan yang lebih besar.

Awan ini akan terus bergerak  dengan suhu yang lebih rendah. Kumpulan awan akan terus berkumpul hingga akhirnya berubah menjadi kelabu. Inilah yang disebut awan mendung. Dan setelah awan semakin menebal dan berubah warna menjadi kelabu (mendung), titik-titik air yang membentuk awan akan semakin berat. Titik-titik air ini kemudian akan runtuh dan turun menjadi hujan.

Proses hujan buatan.

Meski hujan adalah suatu fenomena alam, namun dengan kecerdasannya, ternyata manusia juga bisa membuat hujan buatan. Hujan buatan ini biasanya dibuat saat suatu daerah sudah terlalu lama tidak terjadi hujan. Proses membuat hujan buatan ini tetap menggunakan prinsip pembentukan hujan secara alami.

Jadi hujan buatan tidak serta merta kemudian manusia membuat hujan sendiri. Hujan buatan prinsipnya adalah mempercepat proses fisika yang ada diawan sehingga hujan bisa terjadi lebih cepat. Jadi syarat utama dari membuat hujan buatan adalah adanya awan yang sudah masuk fase matang. Awan yang sudah matang ini akan memiliki kandungan air yang cukup. Selain keberadaan awan, perlu juga kecepatan angin yang rendah.

Untuk membuat hujan buatan ini, manusia akan menaburkan suatu bahan kimia bernama Argentium lodida ke dalam awan yang sudah matang tadi. Jenis awan untuk mendukung keberhasilan terjadinya hujan buatan adalah jenis awan Cumulus aktif. Untuk prosesnya sendiri adalah sebagai berikut :

  • Zat glasiogenik berupa Argentium Iodida atau Perak Iodida ditaburkan ke awan Cumulus aktif. Selain zat glasiogenik, turut ditaburkan juga zat higroskopis. Zat higroskopis ini berguna untuk menggabungkan butir-butir air di awan. Zat higroskopis ini berupa NaCl, CaCl2 dan juga Urea. Dipilih yang berbentuk bubuk.
  • Penaburan bahan kimia ini dilakukan pada ketinggian 4000 hingga 7000 kaki. Penaburan bahan kimia ini juga memperhitungkan beberapa faktor seperti arah angin dan juga kecepatan angin.
  • Waktu menabur bahan harus dimulai saat pagi 07.00 PM. Hal ini karena mempertimbangkan bahwa proses pembentukan awan secara alami terjadi pada waktu pagi hari.
  • Bahan-bahan kimia tadi ditaburkan dengan menggunakan pesawat terbang, kecuali Urea.
  • Bahan–bahan kimia tadi akan berpengaruh terhadap awan. Awan akan berkondensasi dan membesar.
  • Setelah awan berkondensasi dan membentuk awan yang lebih besar, beberapa jam kemudian urea baru ditaburkan. Bubuk Urea ini memiliki fungsi yang sama untuk membantu mengelompokan awan-wan kecil hingga membuat awan semakin membesar dan membentuk awan abu-abu. Awan abu-abu ini disebut awan hujan.
  • Urea ditaburkan pada saat siang hari. Atau sekitar pukul 12.00 siang. Hal ini karena pada jam itu awan-awan kecil sudah membentuk kelompok dan membentuk awan yang lebih besar.
  • Setelah awan hujan sudah terbentuk, larutan bahan kimia kembali ditaburkan ke awan hujan. Bahan kimia yang ditaburkan tidak lagi berbentuk bubuk, namun berbentuk larutan. Larutan bahan kimia ini terdiri dar air, urea dan amonium nitrat dengan komposisi perbandingan 4:3:1. Larutan ini akan menjadi pendorong awan hujan untuk membuat butir-butir air yang ukurannya lebih besar. Butir-butir air yang lebih besar inilah yang akan menjadi hujan.

Hujan buatan ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekeringan disauatu daerah. Namun ada dampak negatif dari hujan buatan ini. Air dari hujan buatan ini akan mengandung bahan kimia. Jadi air hujan buatan cukup berbahaya. Bahkan berpotensi besar untuk mencemari tanah.

Itu dia sedikit ulasan mengenai proses terjadinya hujan baik secara alami maupun proses pembuatan hujan buatan. Semoga hal ini bisa memberi pengetahuan baru untuk anda.

 Baca Juga : Proses terjadinya pelangi

Leave a Reply